
Bagi
pasangan yang berencana memiliki anak lebih dari satu, menentukan jarak antar kehamilan yang ideal
menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, banyak pasangan yang merasa kerepotan
jika ada satu bayi lagi yang lahir sementara bayi yang lahir duluan masih butuh
disusui atau diasuh secara penuh. Bayi akan terlantar dan tidak mendapat
perhatian seimbang, sementara kedua orang tua juga akan repot mengatur waktu.
Akan
tetapi, tindakan menentukan jarak antar kehamilan yang ideal ternyata memiliki
dampak lebih dari sekedar menghindari kerepotan dalam hal pengurusan bayi dan
pembagian waktu orang tua.
Manfaat Mengatur
Jarak Kehamilan
Tadi
sudah disebutkan bahwa pasangan yang mengatur jarak kehamilan antar anak
pertama dan berikutnya cenderung lebih mudah mengatur waktu serta metode
perawatan, terutama karena orang tua bisa mendapat waktu cukup untuk
beradaptasi dengan kelahiran anak pertama. Akan tetapi, ada manfaat yang lebih
besar dari mengatur "jarak antar
kehamilan", yaitu:
· Menghindari
Resiko Persalinan
Seorang ibu yang baru
melahirkan dan kemudian hamil lagi cenderung belum memiliki kondisi fisik yang
cukup sehat untuk mengandung. Akibatnya, ketika bersalin, resiko persalinan
cenderung lebih besar terhadap si ibu seperti adanya pendarahan. Mengatur jarak
kehamilan membantu tubuh ibu beradaptasi dulu dari kehamilan dan persalinan
sebelumnya.
· Menghindari
Resiko Gangguan pada Bayi
Bayi yang dikandung
ibu yang kondisi rahimnya masih belum begitu pulih beresiko mendapat asupan
nutrisi yang lebih sedikit. Akibatnya, bayi bisa mengalami bermacam-macam
kondisi seperti autism, organ yang kurang berkembang, hingga lahir prematur. Dengan
mengatur jarak kehamilan, bayi akan lahir lebih sehat.
· Menghindari
Resiko Kesehatan Masa Hamil
Ibu yang tidak
mengatur jarak antar kehamilan
cenderung mengalami macam-macam gangguan kesehatan seperti anemia. Mengatur
jarak kehamilan berarti mengurangi resiko kesehatan dan membuat wanita lebih
nyaman dalam kehamilan berikutnya.
Pertanyaanya, kapan
jarak kehamilan dianggap ideal?
Jarak Antar Kehamilan
yang Ideal
Pada
seorang ibu yang melahirkan normal, jarak kehamilan paling ideal adalah 3
hingga 5 tahun. Selain sang ibu dan bayi lebih sehat, orang tua pun memiliki
waktu banyak untuk menyesuaikan diri dengan pola pengasuhan dan memberinya
makanan padat agar tidak bersaing mendapatkan jumlah ASI yang cukup
dibandingkan dengan adiknya. Banyak orang yang memutuskan untuk memiliki anak
lagi setelah hanya setahun hingga 2 tahun, namun hal ini masih cukup beresiko
sehingga harus dikonsultasikan ke dokter.
Bagaimana
jika seorang ibu melahirkan lewat prosedur bedah, berapa jarak antar kehamilan yang ideal? Dalam hal ini, seorang ibu boleh
mencoba untuk hamil setelah paling sedikit 3 tahun setelah prosedur pembedahan
dilakukan. Kehamilan yang kurang dari 3 tahun pasca pembedahan memiliki resiko besar,
misalnya kemungkinan bahwa persalinan berikutnya harus lewat bedah Caesar lagi,
serta robeknya luka bekas jahitan yang menimbulkan pendarahan dalam.
Akhirnya,
ketika Anda membiarkan anak pertama tumbuh cukup besar setelah persalinan,
biasanya kondisi psikologisnya sudah lebih siap untuk menerima kehadiran adik
baru. Tentunya, orang tua juga harus berperan dalam memberikan pengertian agar
ia siap menerima kehadiran adiknya.
Tips Memperlebar
Jarak antar Kehamilan
Solusi
untuk memperlebar jarak kehamilan bisa dengan mencatat masa ovulasi, dimana
suami istri sebaiknya tidak berhubungan di masa-masa 5 hari sebelum dan sesudah
masa subur. Selain itu, bisa juga dengan menggunakan pil KB atau alat
kontrasepsi, dan si suami menggunakan kondom. Anda juga bisa memodifikasi gaya
berhubungan badan, misalnya si suami melakukan ejakulasi eksternal agar tidak
kecolongan membuahi sel telur subur. Dengan mengatur jarak antar kehamilan, Anda akan lebih siap menyambut kehadiran
anak yang baru tanpa masalah.

0 komentar:
Posting Komentar